Oleh: davidamanik | September 25, 2009

Botol di Tengah Jalan

Suatu kali saya hendak pergi ke “VideoEzy”, tempat dimana saya biasanya meminjam film2 utk ditonton. Untuk dapat ke tempat itu, saya seperti biasa harus menyusuri jalan utama di Jl. Dr. Setiabudhi, Bandung. Saat mendekati VideoEzy tersebut, tanpa sengaja saya melihat sebuah botol minum air mineral yang sudah gepeng, kotor, dan tidak jelas lagi bentuknya beberapa kali dihempaskan oleh kendaraan (motor) yang lewat melaluinya, yang notabene Jl. Setiabudhi ini cukup padat volume kendaraannya yang lalu lalang. Dan, berikutnya, tidak ada yang mempedulikan, botol itu tetaplah teronggok di situ seakan “menunggu” untuk digilas lagi, tanpa perlindungan apapun.

Seketika itu, dalam hati kecil saya, seakan saya mendengar dengan jelas suara yang dikatakannya, bahwa seperti itulah hidup yang saya lalui seandainya saya tidak berpegang kepada Tuhan, Sang Pencipta yang menjadikan saya. Crash, tergilas oleh arus zaman yang semakin lama semakin tidak jelas arah, tujuan, dan bentuknya ini. Saya membayangkan, bahwa pada suatu saat nanti, segala sesuatunya di dunia ini akan hancur, dan sudah pasti, saya tidak akan dapat berbuat apapun untuk menyelamatkan hidup saya dengan apapun yang ada di dunia ini. Hanya Sang Pencipta yang Agung itulah, ya, Tuhan itulah yang dapat saya pegang seumur hidup saya hingga saya mati kelak, yang dapat menyelamatkan hidup saya.

Manusia lahir tidak membawa apa2, begitu juga ketika dia pulang kembali kepada Tuhannya. Apa yg dapat dia bawa adalah Tuhan itu sendiri, yang ada di dalam hatinya dan karakter yang lahir dari itu ketika dia hidup di dunia.

Saya tidak mau berbicara tentang agama atau apapun itu sejenisnya. Tapi,saya mau berbicara tentang hidup. Bagaimanakah hidup itu seharusnya. Sama seperti botol minum air mineral tadi, yang pasti memiliki tujuan dia diciptakan dan bagaimanakah dia seharusnya berfungsi, demikianlah hidup manusia.

Hidup kita tak lebih dari botol di tengah jalan tadi ketika kita tidak menyerahkannya kepada Sang Pembuatnya, yaitu TUHAN!

[d@v!D]


Responses

  1. bagus juga ente berfilsafat. Yah memang begitulah hidup, kita mesti “berarti” sebelum hidup kita tak “berarti” seperti botol yang terlindas roda kehidupan.

    • hehe…
      bukan berfilsafat mas..
      hanya mencoba utk belajar…
      hehe…
      tq ya mas n salam kenal…🙂

      [d@v!D]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: